PENDIDIKAN ISLAM BERBASIS TAUHID
A. Arti, dasar, dan tujuan pendidikan berbasis taukhid
1. PENGERTIAN PENDIDIKAN.
Pendidikan adalah suatu aktivitas untuk mengembangkan
selururh aspek kepribadian manusia yang berjalan seumur hidup. Dengan kata lain
pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi berlangsung pula di
luar kelas. Pendidikan bukan bersifat formal saja, tetapi mencakup pula yang
non formal.
Sejalan dengan penentuan prioritas bidang pembangunan,
lebih-lebih pada bidang yang bersifat material, maka terdapat kecendrungan
dalam pendidikan untuk menjejalkan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan
bidang material tersebut. Kecenderungan ini sebenarnya bertujuan baik. Ia
bermaksud menyesuaikan diri dengan iklim
pembangunan dan kemajuan teknologi. Ia juga bermaksud memenuhi kebutuhan
tenega-tenaga yang masih sangat kurang pada bidang-bidang tersebut,Akan tetapi
karena bahan-bahan yang diberikan bersifat ekstern dari inti kepribadian
manusia, dengan sendirinya ciri pendidikan yang sangat nampak hanyalah lebih
bersifat pengajaran. Sedangkan menurut Charles
E. Siberman bahwa pendidikan tidak identik dengan pengajaran yang hanya
terbatas pada usaha mengembangkan intelektualitas manusia. Tugas pendidikan
bukan melulu meningkatkan kecerdasan, melainkan mengembangkan seluruh aspek
kepribadian manusia. Pendidikan merupakan sarana utama untuk mengembangkan
kepribadian setiap manusia. Pendidikan agama tentunya mempunyai fungsi dan
peran yang lebih besar daripada pendidikan pada umumnya, lebih-lebih yang hanya
menitk beratkan pada aspek kognitf semata.
Secara umum pendidikan dapat diartikan sebagai usaha
manusia untuk menbiana kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam
masyarakat dan kebudayaan. Dengan demikian, bagaimanapun sederhananya peradaban
suatu masyarakat, di dalamnya terjadi atau berlangsung suatu proses pendidikan.
Oleh karena itu sering dinyatakan pendidikan telah ada sepanjang peradaban umat
manusia. Pendidikan pada hakikatnya merupakan usaha manusia melestarikan
hidupnya. Pendidikan diartikan juga sebagai proses timbal balik dari tiap
pribadi manusia dalam menyesuaikan dirinya dengan alam, dengan teman, dan
dengan alam semesta.
Pendidikan adalah
proses, dalam mana potensi-potensi ini (kemampuan, kapasitas) manusia yang
mudah dipengaruhi oleh kebiasaan-kebiasaan supaya disempurnakan oleh
kebiasaan-kebiasaan yang baik, oleh alat/media yang disusun sedemikian rupa dan
dikelola manusia untuk menolong orang lain atau dirinya sendiri mencapai tujuan
yang ditetapkan.
Dalam hal ini ti Dosen FIP IKIP Malang menyimpulkan
pengertian pendidikan adalah :
a.
Aktivitas
dan usaha manusia untuk meningkatkan kepribadiannya dengan jalan membina
potensi-potensi pribadinya rohani (pikir, rasa, karsa, cipta dan budi nurani)
dengan jasmani (panca indera serta keterampilan-keterampilan).
b.
Lembaga
yang bertanggung jawab menetapkan cita-cita (tujuan) pendidikan, isi, sistem
dan organisasi pendidikan.
Lembaga-lembaga ini
meliputi : keluarga, sekolah dan masyarakat (negara).
c.
Hasil atau
prestasi yang dicapai oleh perkembangan manusia dan usaha lembaga-lembaga
tersebut dalam mencapai tujuannya. Pendidikan dalam arti ini merupakan tingkat
kemajuan masyarakat dan kebudayaan sebagai satu kesatuan.
Dari rumusan ini masih banyak terlihat keumuman
pengertian pendidikan. Pembentukan pribadi misalnya belum memberi gambaran
konsep kepribadian model yang mana. Demikian juga perkembangan manusia yang
dikehendaki nketerpaduannya dengan kemajuan masyarakat dan hasil budaya, belum
menunjukan adanya kualifikasi tertentu.
2. ANALISA TENTANG DASAR-DASAR
PENDIDIKAN BERBASIS TAUHID.
Sebagai aktivitas
yang bergerak dalam bidang pendidikan dan pembinaan kepribadian, tentunya
pendidikan Islam memerlukan landasan kerja untuk memberi arah bagi programnya.
Sebab dengan adanya dasar juga berfungsi sebagai sumber semua peraturan yang
akan diciptakan sebagai pegangan langkah pelaksanaan dan sebagai jalur langkah
yang menentukan arah usaha tersebut.
Dasar pelaksanaan
pendidikan Islam terutama adalah Al-Quran dan Al-Hadits. Dalam Al-Quran, surat
Asy-Syura, ayat 52 :
Artinya :
“Dan demikian kami wahyukan
kepadamu wahyu (Al-Quran) dengan perintah kami. Sebelumnya kamu tidaklah
mengetahui apakah al kitab (Al-Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman
itu, tetapi kami menjadikan Al-Quran itu cahaya yang kami beri petunjuk dengan
dia siapa yang kamikehendaki di antara hamba-hamba kami. Dan sesungguhnya kamu
benar-benar memberi petunjuk kepada jalannya yang benar”.
Hadits Nabi Muhammad SAW yang artinya :
“Sesungguhnya orang mu’min
yang paling dicintai oleh Allah ialah orang yang senantiasa tegak dan taat
kepada-Nya dan memberikan nasihat kepada hamba-Nya, sempurna akal pikirannya, serta
menasihati pula akan dirinya sendiri, menaruh perhatian serta mengamalkan
ajarn-Nya selama hayatnya, maka beruntung dan memoleh kemenangan ia” (Al-Gazali, Ihya’ Ulumuddin hal.90)
Dari ayat Al-Quran
dan Hadits Nabi di atas dapat diambil titik relevansinya dengan atau sebagai
dasar pendidikan agama, mengingat :
1.
Bahwa
Al-Quran diturunkan kepada umat manusia untuk memberi petunjuk ke arah jalan
hidup yang lurus dalam arti memberi bimbingan dan petunjuk ke arah jalan hidup
yang lurus dalam arti memberi bimbingan dan petunjuk ke arah jalan yang
diridhoi Allah SWT.
2.
Menurut
Hadis Nabi, bahwa di antara sifat orang mukmin ialah saling menasihati untuk
mengamalkan ajaran Allah, yang dapat diformulasikan sebagai usaha atau dalam
bentuk pendidikan Islam.
3.
Al-Quran
dan Hadis tersebut menerangkan bahwa Nabi adalah benar-benar pemberi petunjuk
kepada jalan yang lurus, sehingga beliau memerintahkan kepada umatnya agar
saling memberi petunjuk, memberikan bimbingan, penyuluhan, dan pendidikan
Islam.
Prof. Dr. Moh.
Athiyah al-A brasyi dalam bukunya “Dasar-dasar
pokok Pendidikan Islam” menegaskan bahwa pendidikan agama adalah untuk mendidik
akhlak dan jiwa mereka, menanamkan rasa fadilah (keutamaan), membiasakan mereka
dengan kesopanan yang tinggi, mempersiapkan mereka untuk suatu kehidupan yang
suci seluruhnya ikhlas dan jujur.
Bagi umat Islam
maka dasar agama Islam merupakan fondasi utama dari keharusan berlangsungnya
pendidikan. Karena ajaran-ajaran Islam bersifat Universal yang mengandung
aturan-aturan yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia dalam
hubungan-hubungannya dengan khaliqnya yang diatur dalam ubudiyah, juga dalam
hubungannya dengan sesamanya yang diatur dalam muamalah, masalah berpakaian,
jual-beli, aturan budi pekerti yang baik dan sebagainya.
Urutan prioritas
pendidikan Islam dalam upaya pembentukan kepribadian muslim, sebagaimana
diilustrasikan berturut-turut dalam Al-Quran surat Luqman, mulai ayat 3 dan
seterusnya adalah :
(1)
Pendidikan
Keimanan Kepada Allah SWT.
Artinya :
“Dan ingatlah ketika Luqman
berkata kepada anaknya di waktu ia memberi pelajaran kepadanya. Hai anakku,
janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah
benar-benar kezhaliman yang besar”. (Luqman ayat
13)
Pendidikan yang
pertama dan utama untuk dilakukan adalah pembentukan keyakinan kepada Allah
yang diharapkan dapat melandasi sikap, tingkah laku dan kepribadian anak didik.
(2)
Pendidikan
Akhlaqul Karimah.
Sejalan dengan usaha membentuk dasar keyakinan/keimanan
maka diperlukan juga usaha membentuk akhlak yang mulia. Berakhlak yang mulia
adalah merupakan modal bagi setiap orang dalam menghadapi pergaulan antara
sesamanya.
Firman Allah SWT :
Artinya :
“Dan janganlah kamu
memalingkan mukamu dari manusia karena sombong dan janganlah kamu berjalan di
muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
sombong lagi membanggakan diri”.
(Luqman : 18).
(3)
Pendidikan
Ibadah.
Ibadah yang secara awam diartikan sesembahan,
pengabdian, sebenarnya adalah istilah yang paling luas dan mencakup tidak hanya
penyembahan, tetapi juga berhubungan dengan laku manusia meliputi kehidupan.
Yang paling beradab, dari segi pandangan spiritual, adalah mereka yang mematuhi
dengan sangat rapat kemauan Allah SWT, di dalam semua perbuatan-perbuatan
mereka.
Islam memandang untuk manusia suatu tata tertib untuk
kehidupannya sebagai suatu keseluruhan, baik material maupun spiritual. Upaya
untuk ini Islam memberikan aturan-aturan peribadatan, sebagai manifestasi rasa
syukur bagi makhluq terhadap khaliqnya.
3. ANALISA TENTANG TUJUAN PENDIDIKAN BERBASIS TAUHID.
Tujuan adalah dunia
cita, yakni suasana ideal yang ingin di wujudkan. Dalam tujuan pendidikan
suasana ideal itu nampak pada tujuan akhir (ultimate aims of education). Tujuan
akhir biasanya dirumuskan secara padat dan singkat, seperti terbentuknya
kepribadian muslim. Dan kematangan integritas – kesempurnaan – pribadi.
Sebagai dunia cita,
kalau sudah ditetapkan, ia adalah idea statis. Tetapi sementara itu kualitas
dari tujuan itu adalah dinamis dan berkembang nilai-nilainya. Lebih-lebih
tujuan pendidikan yang di dalamnya sarat dengan nilai-nilai yang bersifat
fundamental, seperti: nilai-nilai sosial, nilai ilmiah, nilai moral dan nilai
agama. Di sini kiranya orang berkeyakinan bahwa pendidikan menyimpan kekuatan
yang luar biasa untuk menciptakan keseluruhan aspek lingkungan hidup dan dapat
memberi informasi yang paling berharga mengenai pegangan hidup masa depan
dunia, serta membantu anak-anak didik dalam mempersiapkan kebutuhan yang
esensial untuk menghadapi perubahan.
Ada yang memerinci
tujuan pendidikan dalam bentuk taksonomi (sistem klasifikasi) yang terutama
meliputi :
1.
Pembinaan
kepribadian (nilai formil).
- sikap (attitude).
- daya pikir praktis rasional.
- obyektivitas.
- loyalitas kepada bangsa dan ideologi.
- sadar nilai-nilai moral dan agama.
2.
Pembinaan
aspek pengetahuan (nilai materill), yaitu materi ilmu itu sendiri.
3.
Pembinaan
aspek kecakapan, keterampilan (skill) nilai-nilai praktis.
4.
Pembinaan
jasmani yang sehat.
B. PENDIDIKAN dan PENGAJARAN TAUHID
Pendidikan dan
pengajaran merupakan hal yang pertama dan utama usaha manusia untuk
mencerdaskan bangsanya dan sekaligus mempertinggi cita-cita bangsanya, akan
tetapi pendidikan dan pengajaran Tauhid lebih dari itu, ia juga dapat menuntun
orang mencapai kebahagiaan hidup di akhirat kelak.
Pendidikan Tauhid
dimaksudkan adalah membimbing anak didik agar mempunyai jiwa tauhid, melalui
bimbingan tidak hanya dengan lisan dan tulisan, akan tetapi juga melalui sikap,
tingkah laku dan perbuatan. Segala tingkah laku, perbuatan dan perkataan orang
tua atau guru adalah termasuk pekerjaan mendidik.
Pengajaran Tauhid
dimaksudkan adalah memberikan pengertian tentang ketauhidan baik ia sebagai
akidah yang wajib diyakini atau tauhid sebagai filasafat hidup manusia yang
akan membawa kebahagiaan dunia dan akhirat.
Pendidikan dan
pengajaran Tauhid, baik yang berhubungan dengan akidah atau ibadah, akan
menanamkan keikhlasan dalam mengabdi kepada Allah. Keikhlasan mengabdi kepada
Allah inilah yang membuat Tauhid laksana pisau bermata dua, satu segi untuk
kehidupan di akhirat dan segi lain untuk kehidupan di dunia ini.
Usaha-usaha
pendidikan dan pengajaran Tauhid harus dimulai sejak anak didik lahir ke dunia
ini, anak adalah amanah Allah kepada orang tuanya. Fitrah anak yang mempercayai
adanya Allah SWT. Harus disalurkan dengan sewajarnya, di bimbing dan diarahkan
kepada rasa iman kepada Allah dan mencintai-Nya pula.
Proses pendidikan
dan pengajaran tauhid harus dimulai sejak lahir anak ke dunia ini. Bukankah
kehadiran seorang bayi ke dunia ini supaya didengungkan suara adzan sebagai
pertanda pendidikan dan pengajaran tauhid telah dimulai.
“Sesungguhnya telah adzan
Rasulullah saw. Pada telinga Husein (cucu beliau) ketika Husein baru dilahirkan
– oleh Fatimah.” (Riwayat Ahmad dan Turmudzi).
Usaha-usaha
pemupukan rasa iman sebagai fitrah manusia itu harus sungguh-sungguh mendapat
perhatian orang tua/pengasuh, agar dapat bertumbuh dan berkembang dengan wajar.
Usaha-usaha pemupukan rasa iman itu melalui dalam tiga proses, yaitu
pembiasaan, pembentukan pengertian dan akhirnya pembentukan budi luhur.
Dalam taraf
pembentukan pembiasaan, meliputi masa vital, masa anak-anak dan sebahagian masa
sekolah. Dalam taraf pembiasaan ini hanya berupa pembiasaan pengenalan terhadap
rasa iman kepada Allah dan adanya Allah.
Pada taraf ini anak
dapat diumpamakan sebagai bibit tanaman yang baru bertumbuh, maka ia memerlukan
pemeliharaan yang serius dari gangguan-gangguan yang dapat mematikan tanaman
yang baru tumbuh itu, memerlukan siraman, perlindungan dari panas matahari dan
sebagainya.
Anak mengenal Allah
dengan perantaraan apa yang dilihat dan didengarnya dari lingkungan, mula-mula
diterimanya secara acuh tak acuh, akan tetapi tatkala ia melihat atau mendengar
lingkungan keluarganya menganggumi Allah, maka terjadilah pengalaman agamis
dalam dirinya.
Anak pada permulaan
sekolah, pembiasaan diperlukan peragaan-peragaan pengenalan kepada Allah –
lebih baik secara spontan – yang dapat dilihat atau didengar anak seperti
mengucapkan basmallah, shalat, mendo’a, mengucapkan salam bila bertemu sesama
keluarga, mengucapkan syukur dan sebagainya.
Pada permulaan
sekolah anak belum dapat menyerap pemikiran maknawy, pemikiran masih terbatas
pada persoalan yang nyata dan suka meniru. Maka kesukaan meniru ini perlu
dimanfaatkan dan diarahkan pada pengenalan kepada Allah.
Pada tahap
pembentukan pengertian, meliputi pada masa sekolah sampai menjelang remaja. Ada
suatu hal yang perlu diperhatikan pada anak usia menjelang usia sekolah yaitu
anak suka berkhayal, karenanya kekhayalannya itu perlu mendapat penyaluran pada
pengenalan kepada Allah, antara lain seperti mukjizat, malaikat dan sebagainya.
Masa remaja adalah
masa peralihan dan persiapan untuk dewasa, ia bukan anak-anak lagi akantetapi
dewasa pun belum matang pula. Masa remaja bagaikan pohon yang kita tanam
mengalami hembusan angin dan tidak jarang pohon itu tumbang bila akar-akarnya
tidak kuat
Menjelang usia baligh, anak diarahkan pada penginsafan
tentang kenyataan, mengerti dan menyadari bahwa segala apa saja yang ada di
dunia ini adalah makhluk Allah, semuanya diciptakan oleh Allah.
Apabila pertumbuhan dan perkembangan pengenalan kepada
Allah itu berjalan dengan baik dan lancar, segala kebiasaan yang baik jadi
amalannya., maka dalam usia remaja akan terbentuklah rasa iman kepada Allah
dengan mendalam dan lebih di sempurnakan lagi pada usia dewasa yang dimatangkan
dengan pendidikan dan pengajarannya atau pengalamannya.
Dari uraian di atas nyatalah bahwa lingkungan keluarga
besar sekali perannya dalam pendidikan anak pada umumnya dan pendidikan agama
khususnya. Pendidikan dan pengajaran dalam lingkungan keluarga itu akan lebih
berhasil lagi bila tidak mengalami halangan dan rintangan antara lain seperti
keutuhan struktur keluarga dan keutuhan interaksi antara sesama anggota
keluarga.
Peranan utama pendidikan keluarga adalah ibu, ibu
sebagai pendidik utama dalam lingkungan keluarga, tidak dapat digantikan oleh
orang lain, terutama yang berhubungan dengan kebutuhan rohani. Ibu mendidik
anknya atas dasar kasih sayang yang dalam. Nilai ASI sangat besar pengaruhnya
terhadap perkembangan pisik dan mental anknya, hubungan ibu dan anak dalam
menyusui yang disertai pelukan dan belaian sayang akan menghadirkan rasa aman
dan nyaman dalam diri anak. Oleh karena itu peranan ibu dalam pendidikan
keluarga, hendaknya perlu dimanfaatkan dan diarahkan pada penanaman ajaran
ketauhidan kepada Allah. Karena ajaran tauhid adalah ajaran pokok dalam agama
yang menentukan masa depan seseorang sebagai muslim atau sebaliknya menjadi
kafir.
C. DASAR / LANDASAN PENDIDIKAN BERBASIS TAUHID
1. Dasar Pokok
a. Al-Quran
Ialah kalam Allah yang diturunkan melalui malaikat
Jibril kepada Rasulullah dengan lafadz bahasa arab dan makna hakiki untuk
menjadi dalil bagi kerasulan Rasulullah dan menjadi pedoman bagi manusia dengan
penutunjuknya serta ibadah bila di baca.
b. Sunah
Ialah segala gerak-gerik Rasul baik dari ucapan, perbuatan dan ketetapan
Rasul yang menjadi pedoman umat manusia.
2. Dasar Tambahan
a. Perkataan,
perbuatan dan sikap para sahabat
b. Ijtihad
c. Maslahatul
Mursalah (kemaslahatan umat)
d. Uruf
(nilai-nilai dan adat istiadat masyarakat)
3. Dasar Operasional
a. Dasar historis
b. Dasar sosial
c. Dasar ekonomi
d. Dasar politik
e. Dasar psikologis
f. Dasar fisiologis
D. TAHAP-TAHAP TUJUAN PENDIDIKAN BERBASIS TAUHID
Abu Ahmadi
menyatakan bahwa tahap-tahap tujuan pendidikan Islam meliputi : (1) Tujuan
tertinggi/terakhir, (2) tujuan umum, (3) tujuan khusus, dan (4) tujuan
sementara.
1. Tujuan Tertinggi/Terakhir
Tujuan ini bersifat
mutlak, tidak mengalami perubahan dab berlaku umum, karena sesuai dengan konsep
ketuhanan yang mengandung kebenaran mutlak dan universal. Tujuan tertinggi
tersebut dirumuskan dalam satu istilah yang disebut “insan kamil” (manusia paripurna).
Dalam tujuan
pendidikan Islam, tujuan tertinggi atau terakhir ini pada akhirnya sesuai
dengan tujuan hidup manusia, dan peranannya sebagai makhluk ciptaan Allah.
Dengan demikian indikator dari insan kamil tersebut adalah :
a. Menjadi Hamba Allah
Tujuan ini sejalan
dengan tujuan dan penciptaan manusia, yaitu semata-mata untuk beribadat kepada
Allah. Dalam hal ini pendidikan harus memungkinkan manusia memahami dan
menhayati tentang tuhannya sedemikian rupa. Sehingga semua peribadatannya
dilakukan dengan penuh penghayatan dan kekhusuan terhadap-Nya. Melalui seremoni
ibadah dan tunduk senantiasa pada syari’ah dan petunjuk Allah. Tujuan hidup
yang dijadikan tujuan pendidikan itu diambil dari Al-Quran.
Firman Allah SWT :
Artinya :
“Dan aku (Allah) tidak menjadikan jin dan
manusia melainkan untuk menyembah-Ku”. (QS. Al-Zhariat :56)
b. Mengantarkan subjek didik
menjadi khalifah Allah fi al-Ardh, yang mampu memakmurkan bumi dan
melestarikannya dan lebih jauh lagi, mewujudkan rahmat bagi alam sekitarnya,
sesuai dengan tujuan penciptaanya, dan sebagai konsekuensi setelah menerima
Islam sebagai pedoman hidup.
Firman Allah :
Artinya :
“Ingatlah ketika Tuhan berfirman kepada para
malaikat : Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”.
(Q.S 2 : 20)
c. Untuk memperoleh
kesejahteraan kebahagiaan hidup di dunia samapai akhirat, baik individu maupun
masyarakat.
Selanjutnya firman Allah SWT :
Artinya :
“dan carilah apa yang dianugerahkan Allah
kepadamu (kebahagiaan) kampung akhirat, dan janganlah kamu melupakan
kebahagiaan dari (kenikmatan duniawi”. (Q.S Al-Qashash : 77)
2. Tujuan Umum
Berbeda dengan
tujuan tertinggi yang lebih mengutamakan pendekatan filosofis, tujuan umum
bersifat empirik dan realistik. Tujuan umum berfungsi sebagai arah yang taraf
pencapaiannya dapat diukur karena menyangkut perubahan sikap, perilaku dan
kepribadian peserta didik.
Dikatakan umum
karena berlaku bagi siapa saja tanpa dibatasi ruang dan waktu, dan menyangkut
diri peserta didik secara total.
Sementara itu para
ahli pendidikan Islam merumuskan pula tujuan umum pendidikan Islam ini
diantaranya :
a. Al-Abrasyi misalnya, dalam kajiannya tentang pendidikan Islam telah
menyimpulkan lima tujuan umum bagi pendidikan Islam, yaitu :
1).
Untuk
mengadakan pembentukan akhlak yang mulia. Kaum muslimin dari dulu kala sampai
sekarang setuju bahwa pendidikan akhlak adalah inti pendidikan Islam, dan bahwa
mencapai akhlak yang sempurna adalah tujuan pendidikan sebenarnya.
2).
Persiapan
untuk kehidupan dunia dan kehidupan akhirat.
Pendidikan Islam bukan hanya menitik beratkan pada
keagamaan saja, atau pada keduniaan saja, atau pada keduniaan saja, tetapi pada
kedua-duanya.
3).
Persiapan
untuk mencari rezeki dan pemeliharaan segi manfaat, atau yang lebih terkenal
sekarang ini dengan nama tujuan-tujuan vokasional dan profesional.
4).
Menumbuhkan
semangat ilmiah pada pelajar dan memuaskan keinginan tahu (curiosity) dan
memungkinkan ia mengkaji ilmu demi ilmu itu sendiri.
5).
Menyiapkan
pelajar dari segi profesional, teknikal dan pertukangan supaya dapat menguasai
profesi tertentu, dan keterampilan pekerjaan tertentu agar ia dapat mencari
rezeki dalam hidup disamping memelihara segi kerohanian dan keagamaan.
3. Tujuan Khusus
Tujuan
khusus adalah pengkhususan atau operasional tujuan tertinggi/terakhir dan
tujuan umum (pendidikan Islam). Tujuan khusus bersifat relatif sehingga
dimungkinkan untuk diadakan perubahan dimana perlu sesuai tuntutan dan
kebutuhan, selama tetap berpijak pada kerangka tujuan tertinggi/terakhir dan
umum itu. Pengkhususan tujuan tersebut dapat didasarkan pada :
a. Kultur dan
cita-cita suatu bangsa
Setiap
bangsa pada umumnya memiliki tradisi dan budaya sendiri-sendiri. Perbedaan antara
berbagai bangsa inilah yang memungkinkan sekali adanya perbedaan cita-citanya.
Sehingga terjadi pula perbedaan dalam merumuskan tujuan yang dikehendakinya di
bidang pendidikan.
b. Minat, Bakat,
dan Kesanggupan Subyek Didik
Islam
mengakui perbedaan individu dalam hal minat, bakat, dan kemampuan. Hal itu bisa
dilihat dari keterangan-keterangan Al-Quran Al-Karim.
Firman Allah SWT :
Artinya :
“katakanlah : Tiap-tiap orang berbuat
menurut keadaannya masing-masing. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih
benar menentukan.”
c. Tuntutan
Situasi, Kondisi pada kurun Waktu Tertentu
Apabila
tujuan khusus pendidikan tidak mempertimbangkan faktor situasi dan kondisi pada
kurun waktu tertentu, maka pendidikan akan kurang memiliki daya guna
sebagaimana minat dan perhatian subyek didik;
4. Tujuan Sementara
Tujuan
sementara pada umumnya merupakan tujuan-tujuan yang dikembangkan dalam rangka
menjawab segala tuntutan kehidupan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar