PERSOALAN-PERSOALAN AKHLAK MASA KINI
A.
Pengertian Akhlak
Secara bahasa akhlak berasal dari kata اخلق – يخلق – اخلاقا artinya perangai, kebiasaan, watak,
peradaban yang baik, agama. Kata akhlak sama dengan kata khuluq. Dasarnya
adalah:
y7¯RÎ)ur 4n?yès9 @,è=äz 5OÏàtã ÇÍÈ
Artinya : Dan Sesungguhnya kamu benar-benar
berbudi pekerti yang agung.(Al-Qolam: 4)
÷bÎ) !#x»yd wÎ) ß,è=äz tûüÏ9¨rF{$# ÇÊÌÐÈ
Artinya : (agama Kami) ini tidak lain hanyalah
adat kebiasaan orang dahulu.(Al-Syu’ara : 137)
Menurut Kamus Dewan Edisi Ketiga (2000:
21), akhlak memberi maksud budi pekerti, kelakuan, tingkah laku manusia dan
tabiat samada baik atau jahat.
Menurut Abd. Rahman Md. Aroff (1996: 76),
akhlak berasal daripada Bahasa Arab yaitu jama' daripada kata 'khuluq'
yang membawa maksud kepercayaan, keyakinan, pegangan, sikap, tabiat dan
tingkah laku. Maksud ini terkandung dalam ayat-ayat yang berkaitan dengan
akhlak Nabi Muhammad s.a.w yang telah dikatakan oleh Aisyah r.a yang bermaksud "Akhlak
Rasulullah s.a.w. adalah al-Quran". Akhlak Nabi Muhammad s.a.w. yang
dimaksudkan dalam kata-kata di atas ialah kepercayaan, keyakinan, pegangan,
sikap dan tingkah laku Nabi Muhammad s.a.w. yang semuanya merupakan
perlaksanaan ajaran al-Quran.
Akhlak menurut istilah Islam ialah sikap
keperibadian yang melahirkan perbuatan dan tingkah laku manusia terhadap tuhan
dan manusia, terhadap diri sendiri dan makhluk lain, sesuai dengan suruhan dan
larangan serta petunjuk al- Quran dan hadis.
Akhlak juga difahami sebagai
prinsip-prinsip dan dasar atau kaedah yang ditentukan oleh wahyu untuk mengatur
pelakuan, menentukan atau membentuk hubungan seseorang dengan orang lain
sehingga matlamat kewujudannya di dunia ini dicapai secara yang paling
sempurna. Sebagai ilmu, akhlak ditakrifkan sebagai ilmu yang menghuraikan
hakikat perbuatan berakhlak, mengkaji makna dan arti kebaikan, keburukan,
kewajipan, hati nurani atau suara hati.
Menurut Istilah, akhlak adalah:
Ibnu
Miskawaih: sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melaksanakan
perbuatan tanpa memerlukan pemikiran
danpertimbangan.
Imam
Ghazali: sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan
yang mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
Berdasarkan pengertian di atas dapatlah disimpulkan
bahawa akhlak itu ialah kumpulan sifat yang lahir daripada dalam jiwa dan
berdasarkan dorongan dan pertimbangan sifat itu, suatu perbuatan itu dapat
dikatakan baik atau buruk menurut pandangan manusia. Dengan sifat itu,
seseorang dapat melaksanakan atau meninggalkan perbuatannya. Akhlak yang baik
ialah benar, ikhlas, syukur, amanah, menepati janji, sabar, pemaaf, pemurah dan
lain-lain manakala akhlak yang tidak baik ialah dusta, sombong, takbur, dengki,
dendam, mengumpat, riak, khianat dan lain-lain. Akhlak yang dimaksudkan dalam
kajian ini ialah akhlak buruk yang dimiliki oleh remaja sehingga tercetusnya
permasalahan sosial dalam masyarakat dan negara
Ciri Perbuatan Akhlak:
1. Tertanam kuat dalam jiwa seseorang sehingga telah
menjadi kepribadiannya.
2. Dilakukan dengan mudah tanpa pemikiran.
3. Timbul dari dalam diri orang yang mengerjakannya tanpa
ada paksaan atau tekanan dari luar.
4. Dilakukan dengan sungguh-sungguh.
5. Dilakukan dengan ikhlas.
B.
Akhlak Dalam Islam
Akhlak
menempati posisi yang sangat penting dalam Islam, sehingga setiap aspek dari
ajaran agama ini selalu berorientasi pada pembentukan dan pembinaan akhlak yang
mulia, yang disebut akhlaqul karimah. Hal ini antara lain tercantum dalam hadis
Rasulullah SAW, ”Sesungguhnya saya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang
mulia.” (HR Ahmad, Baihaki, dan Malik). Pada riwayat lain Rasulullah SAW
bersabda, ”Mukmin yang paling sempurna akhlaknya adalah orang yang paling baik
akhlaknya.” (HR Tirmizi).
Akhlak Nabi SAW
disebut dengan akhlak Islam, karena bersumber dari Alquran dan Alquran datang
dari Allah SWT. Karenanya, akhlak Islam berbeda dengan akhlak ciptaan manusia (wad’iyah).
Ciri-ciri akhlak Islam adalah:
1. Kebaikannya bersifat mutlak
(al-khairiyyah almutlaqah),
2. Menyeluruh (as-salahiyyah al-’ammah),
yaitu kebaikan yang terkandung di dalamnya merupakan kebaikan untuk seluruh
umat manusia di segala zaman dan semua tempat,
3. Tetap, langgeng, dan mantap,
4. Merupakan kewajiban yang harus dipatuhi
(al-ilzam almustajab) yaitu kebaikan yang terkandung dalam akhlak Islam merupakan
hukum yang harus dilaksanakan sehingga ada sanksi hukum tertentu bagi orang
yang tidak melaksanakannya, dan
5. Pengawasan yang menyeluruh (ar-raqabah
almuhitah).
Karena akhlak
Al-Quran bersumber dari Tuhan, maka pengaruhnya lebih kuat dari akhlak
ciptaan manusia. Seseorang tidak akan berani melanggarnya, dan harus bertobat
bagi yang melakukannya. Inilah mengapa disebut agama merupakan pengawas yang
kuat. Pengawas lainnya adalah hati nurani yang hidup didasarkan pada agama dan
akal sehat yang dibimbing oleh agama.
Secara
sederhana akhlak Islami dapat diartikan sebagai akhlak yang berdasarkan ajaran
Islam atau akhlak yang bersifat Islami. Kata Islam yang berada di belakang kata
akhlak dalam hal menempati posisi sebagai sifat.
Dengan demikian
akhlak Islami adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah, disengaja,
mendarah-daging dan sebenarnya yang didasarkan pada ajaran Islam. Dilihat dari
segi sifatnya yang universal, maka akhlak Islami juga bersifat universal. Namun
dalam rangka menjabarkan akhlak islami yang universal ini diperlukan bantuan
pemikiran akal manusia dan kesempatan social yang terkandung dalam ajaran etika
dan moral.
C.
Persoalan-Persoalan Akhlak
Sebagaimana baik dan buruknya permasalahan-permasalahan akhlak
juga berasaskan kenonmaterian ruh dan realitas, bukan dari sisi selera dan
kesenangan; akan tetapi adapun hal-hal yang mubah dan benda-benda yang
halal, dapat saja menerima selera (artinya dalam wilayah hal-hal yang
mubah dan benda-benda yang halal, orang dapat memilih sesuai dengan seleranya);
misalnya, seseorang yang sehat berada di depan seprai hidangan yang terdapat di
atasnya bermacam-macam jenis makanan, maka ia dalam hal memilih makanan adalah
bebas. Jika makanan adalah sehat dan baginya tidak berbahaya, memungkinkan ia
menyantap apa saja yang ada dalam hidangan tersebut berdasarkan keinginan dan
seleranya. Dan atau jika terdapat beraneka ragam serta bermacam-macam warna
dari pakaian dan mengenakan yang manapun darinya tidak punya efek negatif, maka
ia dapat memilih secara bebas jenis dan warna pakaian berasaskan seleranya.
Oleh karena itu manusia dalam "ruang privacy" adalah bebas.
Dalam masalah-masalah halal dan haram juga demikian. Jika terdapat
perkara halal dalam beberapa bentuk, maka pembicaraan disitu adalah
bersifat memilih dan bebas; tetapi dalam wilayah antara halal dan haram, di
sini tidak ada pembicaraan memilih dan bebas; kendatipun manusia secara
penciptaan (takwini)
adalah bebas tapi secara operasional (tasyri'i) adalah tidak bebas. Oleh sebab itu dalam
konteks wilayah antara haram dan halal pasti salah satu di antaranya adalah
merusak dan yang lainnya adalah bermanfaat; sebab semua pekerjaan-pekerjaan
dihubungkan dengan ruh non materi manusia adalah tidak sama. Dari sisi inilah
masalah kebaikan dan keburukan, konstruktif dan destruktif dan lain sebagainya
urgen untuk diutarakan. Dan orang yang tahu tentang hubungan
pekerjaan-pekerjaan ini dengan ruh manusia, tentu ia mengutarakan aturan-aturan
amal akhlak (dastûr
al 'amal akhlâq) yang berkenan "harus dan tidak
harus" dan juga mengungkapkan pandangan yang berkenan "ada dan
tidak ada" (realitas obyektivitas akhlak).
1. Bagi Masa Remaja
Masa remaja sebagai masa pencarian identitas
diri, sebelum memasuki masa remaja, seorang anak akan memasuki masa peralihan
antara usia 9-13 tahun. Masa ini juga dikenal dengan masa puberitas. Pada masa
puberitas, setiap orang memiliki dorongan kuat untuk mengaktualisasikan diri
menurut jenis kelamin untuk mendapatkan pengakuan sebagai penegasan identitas
diri. Secara fisik masa remaja (12-13) tahun sedang dalam masa pertumbuhan yang
sangat pesat.
2. Perkembangan Emosi
Produksi hormone dan keadaan hormon yang meningkat akan menyebabkan labilnya emosi. Akibatnya, banyak terjadi gangguan
jiwa atau penyakit
kejiwaan yang melanda seseorang.
3. Nilai Negatif Pergaulan
Manusia yang pada hakikatnya sedang sibuk berjuang dari dalam itu jika
dihadapkan pula pada dunia luar dan lingkungan yang kurang serasi, penuh
kontradiksi serta penuh ketidakstabilan. Akibatnya, mereka akan mudah jatuh pada kesengsaraan batin, hidup dalam kecemasan, ketidakpastian, dan
kebingungan. Hal seperti ini telah menyebabkan jatuh pada kelainan kelakuan
yang membahayakan bagi dirinya sendiri atau orang lain. Setiap manusia harus mewaspadai perilaku negative berikut:
Suka keluyuran, menghabiskan
waktu tanpa agenda yang jelas
Bermalas-malasan dan suka menunda atau meringankan pekerjaan Tagu-ragu dan cenderung bimbang menghadapi kehidupan Sering mengecilkan kemampuan dan potensi diri sendiri Mementingkan bermain ataupun santai dari pada belajar
Mudah larit dalam berbagai kesenangan tanpa perhitungan
Bermalas-malasan dan suka menunda atau meringankan pekerjaan Tagu-ragu dan cenderung bimbang menghadapi kehidupan Sering mengecilkan kemampuan dan potensi diri sendiri Mementingkan bermain ataupun santai dari pada belajar
Mudah larit dalam berbagai kesenangan tanpa perhitungan
4. Akhlak dalam Pergaulan Remaja
Dalam pergaulan sehari-hari di tengah masyarakat seorang harus memiliki pegangan yang kukuh. Di antara
prinsip-prinsip yang
harus dikembangkan adalah:
Mampu mengontrol dan membawa diri dalam semua
situasi
Mencari kawan yang baik dan dapat memotivasi untuk mengembangkan potensi
Mencari kawan yang baik dan dapat memotivasi untuk mengembangkan potensi
Mengembangkan sikap tanggung jawab terhadap
semua tugas yang diemban dan sehingga dapat mempersiapkan masa depan yang gemilang.
Tidak mudah larut dalam kesenangan dan
pergaulan yang bebas karena kebiasaan ini akan menguras segala kemampuan dan dapat menghancurkan masa depan.
Secara factual harus diakui bahwa dalam
kehidupan remaja terdapat beberapa hal khusus yang perlu mendapat perhatian. Di
samping ketentuan umum tentang hubu ngan bermasyarakat, beberapa hal khusus itu
antara lain:
a. Mengucapkan dan menjawab salam
b. Berjabat tangan
c. Kkalawat (berdua-duaan antara pria dan wanita)
d. Mencari teman yang baik
5. Membiasakan Akhlak
Akhlak yang baik adalah fondasi agama dan
merupakan hasil dari usaha orang-orang bertakwa. Dengan akhlak yang baik,
pelakunya akan terangkat ke derajat yang ter-tinggi. Tidak ada amalan yang
lebih berat dalam timbangan seorang muslim dihari kiamat nanti dari pada akhlak
yang baik.
D. Pembentukan Akhlak
Pandangan tentang eksistensi akhlak
Terdapat
dua aliran tentang akhlak manusia, apakah akhlak itu dibentuk atau bawaan sejak
lahir.
1. Akhlak adalah insting (garizah) yang dibawa manusia
sejak lahir. Jadi akhlak adalah pembawaan manusia, yaitu kecenderungan kepada
fitrah yang ada pada dirinya. Akhlak tumbuh dengan sendirinya tanpa dibentuk
atau diusahakan (gairu muktasabah).
2. Akhlak adalah hasil pendidikan, latihan atau pembinaan
yang sungguh-sungguh. Akhlak adalah hasil usaha (muktasabah).
Metode
Pembentukan Akhlak
Dalam
Islam pembentukan akhlak dilakukan secara integrated, melalui rukun iman dan
rukun Islam. Ibadah dalam Islam menjadi sarana pembinaan akhlak.
Cara
lain adalah melalui: pembiasaan, keteladanan, dan instropeksi.
Faktor
Yang Mempengaruhi Pembinaan Akhlak
1. Aliran Nativisme: potensi batin dangat dominant dalam
pembinaan akhlak. Potensi tersebut adalah pembawaan yang berupa kecenderungan,
bakat, minat, akal, dan lain-ain.
2. Aliran Empiris: lingkungan social, termasuk pendidikan
merupakan factor penting dalam pembinaan akhlak.
3. Aliran Konvergensi: pembinaan akhlak dipengaruhi oleh
factor internal (pembawaan) dan factor eksternal (lingkungan).
Islam:
sesuai dengan aliran konvergensi (QS. An-Nahl: 78, dan hadis Nabi: kullu
mauludin…).wallahua'alambisshoab...
pembinaan akhlaq adalah yang utama dalam pendidikan
BalasHapusijin copas akhi/ukhti :)
BalasHapusijin copast ya?
BalasHapusbuat tugas nii....
makasihsebelumnya... :)
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus